Laboratorium Terekstrem di Dunia

Pastikan Anda sudah bergabung bersama kami di Facebook dan Twitter, Cukup klik Tombol LIKE dibawah ini :

Laboratorium Aquarius Reef Base

Mendengar kata laboratorium, bayangan kita menuju sekelompok ilmuwan berbaju putih, berkacamata sedang sibuk mengutak-atik gelas atau mengamati objek riset di sebuah ruangan khusus.

Nah, konsepsi laboratorium di atas mungkin saja tidak didapatkan pada laboratorium terekstrem berikut ini.

Sebab laboratorium unik ini berdiri pada kondisi yang sulit dan mematikan, yaitu di kutub, puncak gunung, bawah air dan lainnya. Berikut lima laboratorium terekstrem menurut Livescience;

1. Laboratorium Gletser Norwegia

Laboratorium ini terletak 200 meter di dalam lapisan es, pada wilayah terpecil, utara Norwegia berdekatan dengan kutub utara.

Untuk mencapai laboratorium yang dioperasikan Norwegian Water Resources and Energy Directorate, Anda harus melalui penerbangan, perjalanan darat dan menggunakan kapal feri agar sampai di gletser Svartisen, di mana pintu masuk terowongan yang terletak di permukaan es.

Jangan dibilang sudah aman jika Anda sudah di terowongan. Untuk masuk ke laboratorium butuh waktu 1 jam dengan syarat kondisi cuaca bersahabat. Jika kondisi bersalju, perjalanan masuk ke laboratorium jadi 4-5 jam.

Peneliti menggunakan laboratorium ini saat musim dingin untuk menghindari melelehnya es pada musim panas. Pada laboratorium ini, peneliti mendalami gerakan gletser yang mengirimkan sinyal seismik, mempelajari bagaimana irisan es yang mengalir saat cuaca hangat dan meneliti kenaikan permukaan air laut saat air gletser mencapai lautan.

Pada kawasan gletser ini, terdapat 3 laboratorium dan beberapa ruang, termasuk empat ruang tidur, dapur, kamar mandi dengan shower. Biasanya 3-4 peneliti tinggal di laboratorium selama 6-7 pada November dan April.

2. Observatorium Mount Washington

Laboratorium ini terletak di puncak gunung New Hampshire dengan ketinggian 1917 meter dari daratan.

Tentunya kondisi di atas ini ekstrem, sangat dingin, kabut san salju tebal, dan kecepatan angin yang dahsyat. Pada April 1934 kecepatan angin mencapai 160 km/jam, angin tercepat kedua setelah rekor tertinggi 372 km/jam.

Kendati sangat ekstrem, peneliti telah beraktivitas di laboratorium ini terus menerus sejak 1932.

Kantor laboratorium pertama kali didirikan di puncak pada 1870 dan didiami sampai 1892. Kemudian pada 1932, peneliti menduduki puncak kembali untuk memberikan informasi cuaca secara berkala, dan meneliti sistem yang mempengaruhi iklim bumi.

Uniknya pada tempat ini juga disediakan museum pertemuan, dibuka pada 1973. Laboratorium juga menyediakan paket wisata sehari semalam kepada turis. Tiap tahun ada 100 ribu turis yang berkunjung.

3. Aquarius Reef Base

Terletak 15 meter di bawah air laut Florida Keys National Marine Sanctuary yang dapat ditinggalli peneliti selama 10 hari.

Walau pada posisi yang susah, laboratorium milik Universitas Internasional Florida, punya ruang dan dalam ala ruang apartemen menengah dengan kisaran ukuran 13x6x5 meter.

Ruangan dalam laboratorium bawah air ini terdapat ruangan untuk 6 ranjang, kamar mandi, toilet dan dilengkapi fasilitas microwave serta air panas.

Laboratorium itu dioperasikan mulai 1993 untuk mendalami pemahaman yang lebih baik dan pemantauan lingkungan sekitar laboratorium. Pusat penelitian ini juga punya mandat untuk meneliti terumbu di sekitar manusia.

Peneliti di bawah air ini pernah menemukan jaringan yang menjadi penyebab dan mendistribusikan penyakit black-band--dapat menghancurkan karang.

Nah, untuk keluar dari laboratorium pada hari kesepuluh, peneliti mengatur tekanan laboratorium dengan tujuan tekanan.

4. Laboratorium Kutub Selatan

Meski terletak pada wilayah paling ekstrem di belahan bumi selatan, laboratorium ini menjadi pusat atau stasiun penelitian.

Laoratorium milik US National Oceanographic and Atmospheric and Administration ini mulai beroperasi pada 1957, dan menjadi pusat misi ilmu pengetahuan.

Misalnya laboratorium riset atmosfer yang meneliti aerosol, gas dan radiasi matahari untuk melihat bagaimana masing-masing mempengaruhi iklim bumi. Dari tempat ini peneliti juga mengirimkan balon atmosfer secara berkala untuk mendapatkan informasi udara sekitarnya.

Tiap tahun setidaknya ada dua penelitian khusus yang mencakup dua peneliti di fasilitas ini.

Laboratorium ini memiliki detektor partikel yang disebut IceCube Neutrino Observatory. Detektor ini mengambil partikel tak bermassa yang disebut neutrino. Kumpulan subatomik itu berasal dari matahari dan sinar kosmik, biasanya sulit dilacak. IceCube merupakan detektor terbesar di dunia, dengan luas 1 Km kubik.

Sebagai tambahan, Telescopeprobes laboratorium Kutub Selatan ini juga mendalami gelombang mikro kosmik dan mencari tanda energi gelap, objek yang masih misterius di alam semesta.

5. Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS)

Laboratorium ini mengorbit bumi pada ketinggian 400 Km. Sudah mendukung puluhan misi ruang angkasa. Kondisi lingkungan laboratorium yang mikrogravitasi bagus untuk mensimulasikan bagaimana penuaan Bumi berjalan.
Minimnya gravitasi membuat sementara astronot kehilangan fungsi tulang mereka, dan terjadi perubahan aliran darah dan otot.

ISS juga memeriksa lingkungan radiasi dan melakukan manufaktur uji coba. pembangunan ISS butuh 13 tahun yang dilakukan bertahap dengan modul pesawat ulang alik secara bertahap yang dikerjakan astronot.

ISS selesai pada 2011 silam dan akan beroperasi sampai 2020. Fasilitas ini memberikan ruang bagi 3-6 astronot yang didalamnya terdapat sebuah ruang setara rumah dengan 5 kamar tidur. Untuk panel surya ISS ini setara dengan lapangan sepakbola Amerika.

[sumber][LenteraInfo]
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Masukkan alamat email kamu untuk mendapatkan informasi menarik setiap harinya:

Jangan lupa untuk mengkonfirmasi langganan di alamat email kamu

Delivered by FeedBurner

Comments
0 Comments

0 comments:

Posting Komentar