AS-Indonesia Kembangkan Alat Prakiraan Iklim

Pastikan Anda sudah bergabung bersama kami di Facebook dan Twitter, Cukup klik Tombol LIKE dibawah ini :

cuaca,prediksi,prakiraan

Kedua negara mengembangkan peralatan prakiraan cuaca yang disebut RAMA.

Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia melakukan kolaborasi iptek di bidang kelautan dan perubahan iklim. Salah satu yang digarap dalam kerja sama ini, yakni data dan informasi yang berupaya memprediksi iklim dan cuaca di Indonesia.

Dua belah pihak kini berencana serius mengembangkan peralatan prakiraan cuaca yang disebut Research Moored Array for African/Asian/Australian Monsoon Analysis and Prediction (RAMA) di Samudra Hindia.

Menurut Duta Besar AS untuk Indonesia, Scot Marciel, yang ditemui di Jakarta (24/10), kerja sama mempertemukan ilmuwan-ilmuwan antarnegara pada ranah sains, khususnya kelautan dan klimatologi. "Contohnya, para ahli vulkanologi dari AS dan Indonesia bertukar pikiran bersama. Begitu pula dengan para pakar lingkungan hidup dan pakar-pakar lainnya. Demi menyajikan informasi yang berguna, mampu memprediksi secara lebih akurat mengenai cuaca dan pola hujan," paparnya.

Menurut Dubes Marciel, Indonesia dan AS selaku penggagas kunci kerja sama dalam bentuk kemitraan komprehensif. Selain itu terlibat pula sejumlah peneliti Jepang, Cina, Australia, Prancis, India, Afrika Selatan. Ilmuwan-ilmuwan Indonesia sendiri ialah gabungan ilmuwan asal Kementerian Kelautan dan Perikanan, BPPT, serta BMKG.

Michael J. McPhaden, ilmuwan senior dari Laboratorium Lingkungan Lautan Pasifik-National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengatakan, di tahap awal penelitian akan mempelajari tentang musim hujan.

"Berawal dari serangkaian program penelitian. Berdasarkan pengamatan dan pemahaman, antara lain terkait monsoon di wilayah Samudra Hindia, kita akan mungkin meramal iklim. Pada akhirnya kami akan implementasikan menjadi produk konkret," ungkapnya.

Untuk memprediksi perubahan iklim, kata McPhaden, buoy laut akan ditempatkan di sepanjang Samudera Hindia, persisnya mulai dari 15 derajat LU hingga 25 derajat LS. "Kami masih memerlukan beberapa tahun ke depan untuk merampungkan seluruh penelitian. Ditargetkan pada tahun 2015," pungkas McPhaden.

[sumber] [LenteraInfo]
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Masukkan alamat email kamu untuk mendapatkan informasi menarik setiap harinya:

Jangan lupa untuk mengkonfirmasi langganan di alamat email kamu

Delivered by FeedBurner

Comments
0 Comments

0 comments:

Posting Komentar