Tiga Kejanggalan Penyergapan Teroris Solo

Pastikan Anda sudah bergabung bersama kami di Facebook dan Twitter, Cukup klik Tombol LIKE dibawah ini :

Ilustrasi-Densus 88

Pistol yang disita dari tertuduh teroris yang tewas ditembak adalah Bareta dengan tulisan Property Philipines National Police

Indonesia Police Watch menyebut ada tiga kejanggalan dalam penyergapan polisi terhadap terduga teroris di Solo, Jawa Tengah pada 31 Agustus kemarin.

Ketua IPW Neta S. Pane mengatakan pistol yang disita dari tertuduh teroris yang tewas ditembak adalah Bareta dengan tulisan Property Philipines National Police. Namun Kapolresta Solo Kombes Asdjima'in sebelumnya menyebutkan senjata yang digunakan menembak polisi di pospam Lebaran jenis FN kaliber 99 mm.

"Apakah orang yang ditembak polisi itu benar-benar orang yang menembak polisi di Pospam Lebaran kota Solo atau ada pihak lain sebagai pelakunya?" kata Neta di Jakarta, hari ini.

Keganjilan kedua yakni anggota Densus 88 Bripda Suherman tewas akibat tertembak di bagian perut. Menurut Neta hal Ini menunjukkan anggota Densus dalam bertugas tidak sesuai dengan Standart Operating Procedure (SOP) yang harus memakai rompi anti peluru.

"Apakah benar pada malam 31 Agustus itu ada operasi Densus. Jika ada kenapa anggota Densus bisa teledor, bertugas tidak sesuai SOP?" katanya.

Neta mengungkap, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Kapolri Jenderal Timur Pradopo segera meninjau tempat kejadian, beberapa jam setelah penyergapan pada 31 Agstus. Padahal dalam peristiwa sebelumnya hal itu tidak pernah terjadi. Bahkan saat tiga kali penyerangan terhadap pos polisi pengamanan Lebaran, Yudhoyono tidak bersikap seperti itu.

"Apakah SBY ingin membangun citra dan menarik simpati publik dari peristiwa Solo yang sempat memojokkan Jokowi ini?" tanya Neta.

Lebih lanjut, Neta mengatakan hasil analisa IPW menyatakan teror dan penembakan terhadap polisi tetap menjadi ancaman meski Densus 88 telah melakukan penyergapan di Solo, Jawa Tengah. Itu karena rasa kesal masyarakat terhadap polisi kian memuncak. Berdasarkan catatan IPW selama 5 bulan pertama tahun 2012, ada 11 polisi yang dikeroyok masyarakat.

"Untuk itu IPW mengimbau Polri agar mengubah sikap, perilaku dan kinerjanya. Anggotanya jangan arogan, represif, memeras dan memungli masyarakat. Tapi bekerja profesional dan proporsional," katanya.

[sumber] [LenteraInfo]
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Masukkan alamat email kamu untuk mendapatkan informasi menarik setiap harinya:

Jangan lupa untuk mengkonfirmasi langganan di alamat email kamu

Delivered by FeedBurner

Comments
0 Comments

0 comments:

Posting Komentar