Faktor yang mempengaruhi tinggi badan anak

Pastikan Anda sudah bergabung bersama kami di Facebook dan Twitter, Cukup klik Tombol LIKE dibawah ini :


Faktor yang mempengaruhi tinggi badan anak cukup banyak. Disamping faktor genetik, faktor lain yang berpengaruh terhadap tinggi anak adalah faktor kesehatan dan kecukupan gizi. Pertumbuhan anak menjadi terhambat jika menderita penyakit tertentu.

Pada tahun 2010, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan, melakukan penelitian Atmarita, memperoleh hasil bahwa, anak Indonesia dengan umur 5 tahun memiliki rata-rata tinggi badan kurang 6,7 cm dari tinggi badan yang seharusnya dimiliki, dan anak perempuan dengan tinggi kurang 7,3 cm. Seharusnya untuk anak dengan usia 5 tahun mempunyai tinggi badan 110cm.

Penyebab yang paling utama mengapa di Indonesia balita mempunyai tinggi badan yang pendek adalah kekurangan gizi, ini diakibatkan oleh konsumsi pangan hewani yang kurang. Disamping itu juga ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan tinggi badan anak menjadi pendek, seperti penyakit cushing penyebabnya karena hormone kortisol terlalu banyak, sindrom turner penyebabnya hilangnya kromosom yang dialami anak perempuan, kurangnya hormon pertumbuhan dan gangguan tiroid.

Tips untuk menyiasati anak supaya mau mengkonsumsi makanan selain dari susu adalah dengan memberikan makanan lunak tanpa bumbu yang tajam dan berikanlah dalam porsi kecil tapi rutin. Jika anak Anda suka ngemil, berikanlah makanan untuk ngemil dengan nutrisi tinggi dan energi yang tinggi. Penambahan kalori dapat diberikan dari beberapa sumber makanan seperti roti keju, puding susu, orak arik telur, macaroni panggang, sup krim, bubur kacang hijau, dll.

Lakukanlah pemeriksaan pada dokter untuk mengetahui penyebabnya. Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti pemeriksaan fisik, laboratorium dan foto rontgen. Bila dokter menemukan adanya gangguan hormon, maka dokter akan menganjurkan untuk merujuknya ke dokter spesialis endokrin.

Jika terhambatnya tinggi badan anak disebabkan gangguan hormon, biasanya pemberian hormon sintetis akan diberikan dokter kepada pasien. Ini sangat membantu untuk merangsang pertumbuhan anak.

Untuk kasus lain seperti gangguan tiroid, biasanya akan dilakukan terapi pengobatan dan setelah dilakukan terapi pertumbuhan badan anak akan menjadi normal kembali. Namun sebagai orangtua juga harus memhamai dan mengetahui bahwa anak mempunyai kategori tinggi badan yang sangat bervariasi. Gangguan kesehatan tidak selalu dialami oleh balita dengan tinggi badan yang pendek. Pada usia balita ada beberapa anak yang terlihat pendek tapi setelah mengalami masa pubertas pertumbuhannya menjadi berkembang pesat, ini dikarenakan orangtuanya mewarisi gen pada anaknya.

Maksimalkan pertumbuhan anak dengan memberikan kecukupan gizi dalam setiap tahapan perkembangannya. Di dalam tahapan asupan MP ASI, bayi memerlukan gizi seimbang dari makanan. Sangat diperlukan asupan makanan yang mengandung vitamin A, zat besi, dan energy protein.

Sedangkan asupan sumber energi bisa Anda dapatkan dari beberapa makanan seperti roti, nasi, umbi-umbian, tepung-tepungan dan sereal. Untuk makanan yang banyak mengandung vitamin A yakni buah, sayuran, kacang-kacangan dan lauk dari sumber nabati seperti tempe, tahu. Sedangkan untuk sumber protein, zat besi dan zinc dapat Anda peroleh dari makanan seperti daging, ikan, hati, ayam, telur, dll.

[sumber] [LenteraInfo]
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Masukkan alamat email kamu untuk mendapatkan informasi menarik setiap harinya:

Jangan lupa untuk mengkonfirmasi langganan di alamat email kamu

Delivered by FeedBurner

Comments
0 Comments

0 comments:

Posting Komentar