Ditahan KPK, Hartati Menangis

Pastikan Anda sudah bergabung bersama kami di Facebook dan Twitter, Cukup klik Tombol LIKE dibawah ini :

Image


Pengusaha Siti Hartati Murdaya dengan menggunakan kursi roda menuju mobil tahanan KPK, kemarin.

JAKARTA– Tersangka dugaan suap pengurusan hak guna usaha (HGU) perkebunan sawit di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Siti Hartati Murdaya akhirnya ditahan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dia dijebloskan ke rumah tahanan KPK setelah menjalani pemeriksaan lebih dari 8 jam sejak pukul 10.00 WIB.Hartati yang terlihat kelelahan setelah diperiksa secara maraton keluar dari Gedung KPK dengan kursi roda sekitar pukul 18.30 WIB. Mengenakan baju tahanan berwarna putih, pemilik PT Hardaya Inti Plantations (HIP) tersebut langsung dikerumuni pendukungnya yang sejak pagi setia menunggu di Gedung KPK.

Mereka berebut mencium tangan salah satu orang terkaya di Indonesia itu. Hartati terlihat menangis begitu dimasukkan ke mobil tahanan KPK. Istri pengusaha Murdaya Poo ini bersikukuh tidak bersalah dalam kasus ini. “Saya difitnah.Saya tidak sedih untuk memikirkan diri saya, tapi saya hanya sedih karena begitu banyak orang yang hidupnya tergantung kepada saya. Saya hanya mengharapkan semua permasalahan ini segera berakhir,”ujarnya kemarin.

Mantan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat tersebut membantah menyuap Bupati Buol Amran Batalipu. Dia mengaku tidak pernah memerintahkan pemberian uang kepada siapa pun.“Saya dikhianati oleh direktur yang saya percayai,”ujarnya. Anak buah Hartati yang tersangkut kasus ini adalah General Manager PT HIP Yani Anshori dan Direktur Operasional PT HIP Gondo Sudjono. Keduanya sudah menjadi terdakwa dan menjalani proses persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

Seperti diberitakan, KPK secara resmi menetapkan Hartati sebagai tersangka sejak 8 Agustus lalu.Pemilik PT HIP dan PT Cipta Cakra Murdaya (CCM) itu diduga kuat sebagai orang yang memberikan uang Rp3 miliar kepada penyelenggara negara, yaitu Bupati Buol Amran Batalipu. Pemberian uang itu diduga terkait proses pengurusan HGU perkebunan kelapa sawit PT HIP di Kecamatan Bukal,Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah.Uang diberikan Hartati kepada Bupati Buol secara bertahap, yakni pertama pada 18 Juni 2012 sebesar Rp1 miliar dan kedua pada 26 Juni 2012 sebesar Rp2 miliar.

Setelah mangkir pada pemeriksaan pertama, Jumat (7/9), dengan alasan sakit, kemarin Hartati memenuhi panggilan KPK sekitar pukul 09.45 WIB. Dia datang diantar ambulans dan menggunakan kursi roda dengan pengawalan sekitar 10 laki-laki berbadan tegap dan mengenakan batik cokelat lengan panjang. Dia dikerumuni pendukungnya yang sebagian besar ibu-ibu.

Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan, penyidik menahan Hartati karena menemukan cukup bukti awal keterlibatannya dalam dugaan kasus suap Amran Batalipu. Penahanan merupakan wewenang penuh penyidik. “Seseorang bisa ditahan karena dia melakukan tindak pidana korupsi, kemudian ada kemungkinan melarikan diri dan kemungkinan untuk melakukan tindakan serupa,”ujarnya.

Soal kondisi kesehatan Hartati, Johan meyakinkan bahwa tersangka tidak mempunyai masalah yang menghalanginya menjalani penahanan. Pada pemeriksaan pertama, 7 September lalu,Hartati mengaku kejang-kejang sehingga tidak hadir memenuhi panggilan KPK. Demi memastikan kesehatannya, penyidik meminta bantuan dokter.

Selain itu, KPK meminta hasil diagnosis penyakit dari rumah sakit karena Hartati pernah dirawat, tetapi ternyata hasil diagnosis yang dimaksud tidak ada.“(Untuk Hartati) KPK menemukan alat bukti, penahanan upaya ini adalah bagian dari proses penyidikan,”ujar Johan.

Kuasa hukum Hartati,Patra M Zen, mengatakan penahanan kliennya seharusnya membawa konsekuensi mempercepat pelimpahan perkara ini ke pengadilan. Penyidik melakukan penahanan bukan hanya karena mempunyai kewenangan, tapi harus berimplikasi pada profesionalitasnya.

Ahli pidana Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Hibnu Nugroho menilai langkah KPK tepat menahan Hartati pada tahap penyidikan ini. Para penyidik memang harus mengamankan barang bukti penyuapan seperti yang disangkakan, apalagi pihak Hartati menyanggahnya dengan dalil pemerasan.

[sumber] [LenteraInfo]
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Masukkan alamat email kamu untuk mendapatkan informasi menarik setiap harinya:

Jangan lupa untuk mengkonfirmasi langganan di alamat email kamu

Delivered by FeedBurner

Comments
1 Comments

1 comments:

DJENDRAL Berbagi mengatakan...

Sabar ya ndok, badai pasti berlalu....

Posting Komentar