Pengadilan Ala Suku Dayak

Pastikan Anda sudah bergabung bersama kami di Facebook dan Twitter, Cukup klik Tombol LIKE dibawah ini :

13461621541890741136


Tiga bulan yang lalu saat itu saya di ajak teman sekerja bagian hubungan masyarakat untuk berkunjung untuk berkunjung pada salah satu ritual adat suku dayak di pedalaman Kalimantan Barat. Ketika kami sampai di lokasi ritual adat tersebut sang dukun yang berbaju putih di gambar sebelum memulai acara ritual berkata ” Beginilah cara kami menentukan siapa yang benar dan siapa salah”. Ritual adat tersebut terkenal dengan nama ” berair hangat”.

Ritual adat ini di gelar karena terjadi perselisihan antara seorang pemuda yang bernama Aming (ikat kepala berwarna merah ) yang dituduh oleh Merusid (ikat kepala warna kuning berbaju hitam) telah melakukan perbuatan santet terhadap salah satu keluarganya sehingga menyebabkan keluarga merusid sakit. Namun Aming tidak menerima di tuduh menyantet sehingga untuk membuktikan kebenaran mereka berdua sepakat melakukan ritual berair hangat untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Ritual adat ini di hadiri hampir seluruh masyarakat kampung juga mengundang pihak aparat desa serta perwakilan polisi sebagai saksi ritual adat tersebut. Ritual adat tersebut di mulai dengan merebus air dengan kuali dengan menggunakkan kayu ulin sedangkan airnya bukan air biasa namun air yang di ambil dari gentong atau kendi dari makam suku dayak, di mana setiap makam suku dayak pasti terdapat gentong/kendi yang berisi air.

1346164670275534647

Air diambil dari gentong/kendi di makam suku dayak (foto ijal)

Setelah air di panaskan kemudian di bacakan mantra-mantra oleh dukun kemudian kedua yang berselisih di suruh mengitari kuali besi tersebut sambil melakukan gerakan tari khas suku dayak yang di iringi oleh bunyi musik dari gong besar dan gong kecil. Kemudian sang dukun meletakan cincin perak di dalam air yang mendidih selanjutnya yang berselisih di suruh mengambil cincin perak tersebut di dalam air yang mendidih. Merusid mengambil cincin tersebut di dalam kuali mencoba sebanyak 3 kali baru berhasil mengambil cincin di dalam air mendidih kemudian cincin tersebut di letakkan lagi ke dalam kuali selanjutnya giliran Aming mengambil cincin perak tersebut hanya 1 kali mencoba berhasil mendapatkan cincin tersebut dari dalam kuali.

Setelah itu mereka di bawa ke rumah masing-masing dan di usap dengan sabut kelapa ternyata yang melepuh adalah tangan Merusid sedangkan Aming tangannya tidak melepuh sehingga Marusid di nyatakan bersalah secara adat karena telah menuduh Aming. Akhirnya Marusid mendapatkan hukuman adat dengan tangan melepuh dan harus meminta maaf kepada Aming.

Sungguh suatu di luar nalar dan akal sehat bahwa dengan sama-sama mencelupkan tangan di dalam air yang mendidih tapi hanya yang bersalah tangannya melepuh sedangkan yang benar tidak ada lecet ataupun tangan yang melepuh. Pengadilan ala suku dayak yang masih bertahan hingga kini.

Saya membayangkan bagaimana seandainya para tersangka koruptor di negeri ini melakukan ritual ini ?

[sumber] [LenteraInfo]
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Masukkan alamat email kamu untuk mendapatkan informasi menarik setiap harinya:

Jangan lupa untuk mengkonfirmasi langganan di alamat email kamu

Delivered by FeedBurner

Comments
0 Comments

0 comments:

Posting Komentar