Asal Muasal Nama “Partikel Tuhan”

Pastikan Anda sudah bergabung bersama kami di Facebook dan Twitter, Cukup klik Tombol LIKE dibawah ini :

Saat mendengar nama “Partikel Tuhan” pasti kita langsung bertanya-tanya. Dalam benak kita, langsung terbersit keingintahuan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan partikel tuhan atau yang biasa disebut sebagai “Higgs boson”


Nama “Partikel Tuhan” diambil dari sebuah buku karya fisikawan Leon Laderman yang ketika masih dalam bentuk draft diberi judul “The Goddamn Particle” (Partikel Tuhan), untuk menjelaskan betapa susahnya menemukan partikel Higgs itu. Partikel Higgs disebut partikel Tuhan karena sifatnya seperti Tuhan, yakni “sangat kuat, berada di mana-mana tetapi sukar ditemukan”. Kemudian, judul buku tersebut diubah oleh penerbit buku karena khawatir maknanya akan terlalu kasar.

Higgs yang menganut atheisme tersebut ternyata tidak suka jika penemuannya itu disebut partikel tuhan. Ia lebih senang bila partikel tersebut dinamakan Higgs boson, sebagaimana yang ia deklarasikan dalam penemuannya.

Tentang nama “boson” itu sendiri diambil dari nama partikel nonbenda yang bekerja sebagai pembawa gaya atau pembawa pesan yang bergerak di antara partikel benda. Interaksi dari partikel benda dan bukan benda itu menghasilkan tiga gaya utama – gaya kuat, lemah, dan gaya elektromagnetik. Terdapat gaya keempat, yakni gaya gravitasi. Gaya gravitasi adalah misteri tersendiri karena hingga kini pemicunya masih dicari dan diduga disebabkan oleh boson yang disebut graviton.

Secara umum teori partikel tuhan adalah teori yang menjelaskan artikel subatom baru yang menjadi dasar dari pembuatan alam semesta. Partikel ini sangat penting untuk menyempurnakan teori alam semesta yang diperkenalkan Albert Einstein.

Teori serta nama “Higgs boson” ditemukan oleh Peter Higgs 48 tahun silam saat sedang berjalan-jalan di Cairngorms, sebuah kawasan pegunungan di wilayah timur Dataran Tinggi Skotlandia. Lalu, Higgs mengajukan proposal mengenai partikel yang mengisi massa melalui interaksinya dengan kehadiran “medan lain” yang tersebar di jagat raya. “Medan lain” itu tidak terlihat dan membentang di sepanjang alam semesta dan memberikan massa kepada partikel-partikel, membuat mereka menyatu, dan mulai membentuk bintang serta planet.

Menurut teori tersebut, “medan lain” berinteraksi dengan partikel-partikel kecil untuk membentuk atom, memberi mereka massa sehingga tidak melesat di angkasa dengan kecepatan cahaya. Higgs meramalkan bahwa medan itu sebenarnya mempunyai sebuah partikel penanda. Jika berhasil menemukan partikel itu maka keberadaan medan itu bisa dibuktikan.

Penemuan itu ditulis dan diajukan ke dua jurnal terkenal, yakni “Physics Letter” dan “Physical Review Letters”. Namun, teori yang ditulis pria kelahiran Newcastle itu hanya dimuat di “Physical Review Letters”.

Kini, teori tersebut kembali mencuat setelah sekelompok ilmuwan Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir (CERN) menemukan partikel yang serupa dengan Higgs boson. Penemuan mutakhir tersebut dipresentasikan dalam seminar dan konferensi ilmiah di laboratorium CERN di Melbourne, Rabu (4/7).

Atas penemuan terbaru tersebut, kebenaran teori Higgs boson semakin kuat. Teori ini dipercaya dapat menjelaskan teori Model Standar dalam fisika. Teori yang dikemukakan pada tahun 1973 ini mengklaim bahwa alam semesta tercipta dari 12 partikel, yang menjadi sumber dan dasar dari semua benda di alam semesta.

[sumber] [LenteraInfo]
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Masukkan alamat email kamu untuk mendapatkan informasi menarik setiap harinya:

Jangan lupa untuk mengkonfirmasi langganan di alamat email kamu

Delivered by FeedBurner

Comments
0 Comments

0 comments:

Posting Komentar